Kamis, 06 Desember 2012

Cerita Remaja



Rumah Pohon
Oleh : B. Husnayain
Siang ini aku capek sekali, pikiranku penat dengan seabreg kegiatan sekolah hari ini. Aku langsung merebahkan tubuhku di springbad warna biru yang siap menopang tubuhku kapanpun aku mau. Kupandangi seisi kamarku ini, semuanya serba warna biru. Sebenarnya biru bukanlah warna favoritku, namun entah mengapa saat Papa menanyakan tentang warna kamarku dengan mantabnya aku langsung menjawabnya dengan warna biru. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sebuah foto berpigura biru yang masih terpajang dengan anggunnya di dinding kamarku. Aku segera beranjak bangun mengambil foto itu. Kupandangi sosok laki-laki yang duduk bersamaku di rumah pohon, Ray. Kami berdua terlihat sangat cocok di foto itu. Aku tersenyum, kali ini foto itu telah menghilangkan sedikit rasa penat yang ada di pikiranku.
Dua tahun lalu Ray selalu ada disini menemani hari-hariku. Menghabiskan waktu bersama di rumah pohon. Namun, saat dia lulus SMA, dia harus pindah ke Bandung, dengan alasan bersekolah disana. Tapi, mengapa selama ini dia tidak pernah mengirim kabar? Apa dia lupa denganku? pikirku. Aku segera kembalikan foto itu di tempat semula, kupajang dengan baik.
Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara Mama yang memanggilku dari bawah.
“Fika… cepat turun, Mama mau bicara sebentar” teriak Mama.
Aku segera menuruni anak tangga, menemui Mama yang sudah berdiri di depan tangga bersama Papa.
“Ada apa Ma?” tanyaku.
“Hari ini Mama dan Papa akan pergi ke Denpasar, di kantor Papa. Karena disana ada tamu Papa dari Singapura. Mungkin Papa dan Mama akan menginap, dan akan pulang besok” jelas Mama, aku mengangguk paham. Papa dan Mama pun langsung berangkat.
Kini aku hanya di rumah sendirian, Papa dan Mama pergi, sedangkan Kakakku sedang berada di rumah Paman di Yogyakarta, hanya ada aku, Simbok dan Pak Ujang. Tiba-tiba aku memiliki ide untuk mengisi kegiatan hari Minggu besok, aku akan pergi ke rumah pohon, mungkin itu bisa sedikit mengobati rasa rinduku pada Ray.
***
Hari ini aku bangun lebih pagi daripada hari-hari Minggu biasanya. Setelah sarapan dan berpamitan dengan Simbok, aku berangkat dengan berjalan kaki menuju rumah pohon yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Kini rumah pohon ini tak segagah dan sekuat dulu, sudah banyak kayu-kayu yang lapuk, bahkan rumah pohon bercat biru itu tak seperti dulu lagi, warnanya telah luntur.
Sesampainya disana, aku segera naik keatas.  Indah sekali melihat pemandangan semua ini dari atas rumah pohon, sejuk dan asri rasanya. Saat aku sedang asyik melihat burung-burung yang sedang kejar-mengejar, seseorang menutup kedua mataku dengan tangannya.
“Coba tebak siapa aku?” kata seseorang dengan suaranya yang berat, suara lelaki.
Aku berpikir, mencoba menebak siapa orang ini. Mengapa tiba-tiba datang dan menutup mataku, aneh.
“Pak Ujang ya?” sambarku asal.
Orang itu lantas melepas tangannya, aku segera menoleh siapa yang menutup mataku itu? Betapa kagetnya aku saat melihat Ray dibelakangku sambil tersenyum. Aku segera memeluknya erat, tak kusangka dia datang tanpa kuduga sebelumnya.
“Ray? Ini beneran kamu?” tanyaku meyakinkan.
Dia mengangguk dengan senyum yang mengembang di pipinya. Aku memeluknya lagi, rasanya ini seperti sebuah mimpi.
“Aku nggak mimpikan?” tanyaku sambil mencubit-cubit pipiku.
“Kamu nggak mimpi kok, ini benar-benar aku, Ray” jawabnya dengan lugu. Dia masih sama seperti dulu, pikirku.
Aku tersenyum puas, karena ini bukan mimpi, dan karena ini sebuah kejutan yang tak terduga.
“Aku nggak nyangka kamu akan kesini?” ujarku mengawali percakapan di rumah pohon ini, setelah selama dua tahun tak ada percakapan antara aku dan Ray disini.
“Ini kejutan” jawabnya, namun kali ini aku melihat sorotan matanya berbeda, air mukanya berubah dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku sempat curiga dengan sorot matanya, namun aku tak menggubrisnya, karena aku sangat senang dia ada disini.
“Kamu tambah cantik Fik, kamu juga tambah tinggi, dan pastinya kamu udah nggak semanja dulu” kata Ray sambil mencubit pipiku. Aku hanya tersenyum, sambil sesekali memandanginya, dia semakin terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
“Tapi Ray, kamu nggak papakan?” tanyaku memberanikan diri untuk bertanya.
Ray tertunduk, diam. Aku sempat merasa bersalah menanyakan hal ini, tapi aku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku pada Ray.
“Aku nggak papa kok, mungkin ini karena aku terlalu memikirkan kuliahku” bisik Ray bahkan hampir tak terdengar.
Aku tersenyum lega, senang rasanya dugaanku tentang banyak masalah yang dipikirkan Ray ternyata salah. Ternyata Ray seperti ini karena memikirkan kuliahnya.
Kami tersenyum bersamaan, meskipun sepertinya, senyum Ray terlihat terpaksa. Tak terasa kami berdua telah bercakap-cakap hingga sore hari, tapi meskipun begitu aku tidak merasakan lapar. Meskipun Ray sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu, dan terkadang hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan dan gelengan.
Sebenarnya Ray kenapa?
“Ray, sudah sore nih, pulang yuk?” ajakku.
“Em, oke. Tapikan rumahku sudah tidak disini lagi, jadi lebih baik aku langsung pulang ke Bandung” jawab Ray terlihat serius.
“Haha, itu nggak lucu” jawabku terkekeh.
“Aku serius Fik” sambar Ray, semakin serius.
Aku memandangnya sekilas, pandangannya kali ini benar-benar terlihat serius.
“Kok gitu sih, apa kamu nggak kangen sama mbok Ningsih?” candaku, berusaha tetap menghangatkan suasana, tak ingin kehilangan Ray lagi.
Kami berdua pun tertawa.
Berkali-kali Ray menolak ajakanku, tapi karena aku semakin memaksanya, akhirnya Ray mau juga aku ajak pulang. Setibanya di rumah, ternyata simbok sudah menungguku di depan gerbang, sambil berlari Mbok Ningsih menghampiriku.
“Non, kok baru pulang? Simbok khawatir Non” kata simbok dengan nafas tersengal.
Aku tersenyum kearah wanita yang sudah tua ini.
“Maaf ya Mbok, aku tadi nggak ngabarin. O iya Mbok, tolong bersihin kamar untuk tamu ya Mbok, kita kedatangan tamu spesial nih” bisikku pada simbok sambil melirik Ray yang berdiri di sampingku.
Simbok mengangguk sambil memandangi Ray lekat-lekat.
“Non, bukannya yang disamping itu Den Ray, pacarnya Non Fika itu ya?” tanya simbok sambil sesekali melirik Ray. Aku mengangguk sambil tersenyum.
 “Ya Gusti, ini den Ray pacarnya Non Fika, kok tambah ganteng aja ya? Simbok sampai nggak mengenali, maklum sudah tua den” ujar simbok dengan tersenyum malu-malu.
Ray hanya membalasnya dengan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Papa dan Mama menyambut Ray dengan baik, selesai mandi aku mengajak Ray ke taman belakang rumah sambil melihat pemandangan malam yang penuh dengan gemerlap bintang.
“Ray, kamu masih ingat nggak saat kamu ngasih aku cincin karet” tanyaku memulai pembicaraan di malam yang sejuk ini.
Namun, kali ini Ray hanya diam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya seperti ini.
“Coba lihat ini” kataku sambil memperlihatkan sebuah cincin karet dari sebuah kotak tempat aku menyimpan cincin tersebut.
Ray menoleh, ia terus memperhatikan cincin karet yang aku tunjukan itu. Dia memandang dengan sorotan mata aneh. Dan semakin lama aku mulai sadar kalau sebenarnya Ray sedang benar-benar menyembunyikan sesuatu.
“Besok kamu bisa anterin aku nggak?” tanyaku menyadarkan Ray dari lamunannya.
“Kemana? Memang kamu nggak sekolah?” tanya Ray.
“Besokkan tanggal merah?” jawabku.
Ray kembali terdiam, setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia menjawab.
“Maaf, tapi aku nggak bisa, banyak agenda yang harus aku selesaikan selama ada disini” jawab Ray yang membuatku kecewa.
Malam ini, aku merasa hubunganku dengan Ray tak seperti dulu lagi. Dia seperti orang asing bagiku. Kami seperti baru bertemu beberapa menit yang lalu. Dan untuk kali ini tak banyak yang kami perbincangankan.
***
Paginya dengan diantar oleh Pak Ujang, aku pergi ke sebuah toko perhiasan di pusat kota Denpasar. Rencananya aku ingin mengganti cincin karet itu dengan cincin sungguhan. Ingin membuat kejutan untuk Ray. Tapi betapa kagetnya aku saat bertemu Ray yang juga sedang memilih cincin disana.
“Ray?” panggilku.
Muka Ray seketika itu langsung berubah, wajahnya terlihat takut, dan sangat bersalah. “aneh”. Tapi aku segera meninggalkan prasangka-prasangka burukku. Mungkin Ray sengaja bilang dia banyak urusan karena dia akan memberiku kejutan, gumamku senang.
***
Seminggu setelah pertemuanku dengan Ray di toko perhiasan itu. Aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Entah kemana dia sekarang. Aku telah banyak mencari info tentang keberadaannya, namun hasilnya nihil. Papa, Mama, dan Kakak menyuruhku agar tidak terlalu larut dalam masalah ini, karena sebentar lagi aku akan menghadapi UN.
“Sudahlah, mungkin Ray tidak sempat berpamitan denganmu, jadi dia langsung balik ke Bandung. Lagipula kamu harus fokus ke ujianmu dulu, kan kalau nilai ujianmu bagus kamu mudah cari kuliah, dengan begitu kamu akan dengan mudah kuliah di Bandung” hibur Mama.
Aku termenung mecoba memahami setiap kata-kata yang di lontarkan Mama. Benar juga, gumamku. Kini aku mulai mengatur semuanya, aku belajar lebih giat, aku tidak pernah lagi membolos les. Semua ini hanya untuk Ray agar aku bisa kuliah di Bandung.
***
Lima bulan sudah aku berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik agar aku bisa dengan mudahnya kuliah di Bandung, dan ternyata perjuanganku  selama ini tidak sia-sia. Aku mendapat rangking kedua se-Provinsi Bali. Itu membuat keluargaku bangga, saking bangganya Papa mengizinkanku untuk mengambil alih villa yang ada di Bandung dan mengizinkanku tinggal disana.
“Jaga diri baik-baik ya Nak, Mama dan Papa akan bangga melihat prestasimu yang akan semakin baik” pesan Mama saat berada di bandara Ngurah Rai.
“Maaf, Papa dan Mama tidak bisa mengatarkanmu sampai ke Bandung, karena Papa dan Mama harus pergi ke Tokyo besok, sedangkan Kakakmu juga sedang sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta” jelas Papa, aku mengangguk paham.
“Tapi, Mama sudah menyuruh kakakmu untuk manjengukmu sesekali” timpal Mama,
“Nggak papa Ma, Fika bisa jaga diri kok”
Akhirnya pesawat Garuda yang membawaku terbang ke Bandung berangkat. Sebenarnya di perjalanan aku masih ragu, mengapa aku secepat ini memilih keputusan, pikirku. Mengapa aku memilih pergi ke Bandung daripada mengambil beasiswa ke Jerman, batinku lagi. Aku terngiang, memikirkan ini semua. Namun lamunanku membuat aku merasa sangat cepat tiba di Bandung.
Setibanya di Bandung aku di jemput oleh penjaga villa Papa. Aku beristirahat sebelum selanjutnya akan mendaftarkan kuliah.
Tiga hari sudah aku disini, dan aku sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk bekalku mendaftar kuliah nanti. Karena sampai sekarang aku belum juga bertemu Ray.
“Besok aku akan mencoba mencari alamatnya lagi” ujarku sebelum tidur.
***
Pagi ini, dengan mengendarai mobil villa, aku melaju entah kemana. Mencoba mencari sebuah alamat. Tiba-tiba saja saat aku melewati sebuah pasar, aku melihat Ibu Ray sedang berbelanja disana. Ya, Ibu Ray. Aku pun segera turun. Ibu Ray tampak lebih tua dan kurus.
“Ibu, Ibunya Ray kan?” tanyaku meyakinkan.
“Iya, anda siapa ya?” tanyanya sambil memandangiku dalam-dalam.
“Bu, ini saya Fika. Pacarnya Ray” kataku.
Perempuan itu tampak berfikir, setelah dia ingat. Dia nampak gemetar dan ingin berlari menjauh dariku, entah mengapa? Padahal selama di Bali dulu, Ibu Ray sangat baik denganku. Tapi untunglah aku berhasil mencegahnya sebelum ia berlari meninggalkanku.
Akhirnya aku berhasil mengajak Ibu Ray pulang, rumah yang dihuni Ibu Ray kini sangat sederhana. Berbeda sekali saat masih berada di Bali dulu. Akhirnya aku mengatakan maksud kedatanganku kesini. Tiba-tiba saja Ibu Ray menangis, dan memelukku erat.
“Maafkan aku… maafkan aku nak Fika” katanya sambil terisak.
“Mengapa Ibu harus minta maaf?” tanyaku kebingungan.
“Sebenarnya, Ray-” kalimatnya terhenti, sepertinya ia tak sanggup melanjutkannya lagi. Aku terpaku melihat perempuan ini menangis sambil merangkulku erat. Sebenarnya ada apa ini?
“Gara-gara Ibu, Ray tidak bisa melanjutkan hubungan denganmu Nak, maafkan Ibu” kata Ibu Ray.
Sebuah kalimat pendek yang mampu membuatku terpaku dalam satu nama “Ray”.
“Ibu, Ibu ngomong apa?” tanyaku mencoba untuk tetap tegar.
“Ray, sudah menikah” jawab perempuan itu sambil terisak.
Aku mencoba tetap tegar, namun sekarang aku tak sanggup membendung air mata ini. Air mata pun menetes. Aku menangis.
“A… apa? R… Ray  me… me… ni… kah?” tanyaku terbata-bata.
Perempuan itu mengangguk pelan. Dan menarik nafas panjang.
“Itu semua karna Ibu, nak. Seandainya kalau saat itu Ibu tidak kecelakaan, seandainya kalau saat itu, Ibu tidak koma. Seandainya semua itu tidak terjadi. Seandainya…” Ibu itu menangis, kini tangisannya semakin menjadi-jadi.
Aku ikut menangis, tak dapat menahan semua yang telah terjadi.
***
“Coba kalau Ray tidak bertemu dengan perempuan itu, pasti Ray tidak akan menikah dengannya. Saat itu, tiga bulan yang lalu, Ibu kecelakaan, dan mengalami koma. Tidak ada uang untuk perawatan Ibu. Dan saat itu juga Ray harus membayar uang untuk kuliahnya dan ia bertemu dengan seorang perempuan yang akan menolong kami, dan perempuan itu telah membantu Ibu. Saat Ibu sembuh perempuan itu kembali, dan betapa kagetnya kami, saat perempuan itu meminta imbalan, ia ingin Ray menjadi suaminya” jelas Ibu itu, saat aku meminta penjelasan.
Air mataku kembali menetes, tak dapat kubendung lagi air mata ini. Aku menangis. Namun, aku harus tau dimana rumah Ray sekarang.
“Bu, kalau beoleh saya tau, dimana rumah Ray sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, dan mengucapkan selamat” kataku dengan suara berat.
Awalnya wanita tua itu enggan akan memberitahu alamat Ray, namun karena aku terus mendesaknya, akhirnya perempuan itu memberikannya.
“Terimakasih Bu, kalau begitu Fika pamit dulu” kataku sambil beranjak dari kursi kayu yang mulai rapuh itu.
Tapi tangan keriput itu, lebih dulu menarik tanganku sebelum aku pergi.
“Nak, sebelum Ray menikah, dia pernah bilang kalau satu-satunya perempuan yang ada di hatinya hanyalah kamu. Dia sangat sayang padamu, hanya kamu yang ada dihatinya” kata perempuan itu.
Aku tersenyum, dan pergi. Selama didalam mobil, aku hanya bisa menangis, dan terus menangis. Mengapa semua ini harus terjadi?
***
Pagi ini aku berangkat ke sebuah alamat yang diberikan oleh Ibu Ray. Setibanya di alamat itu, aku melihat sebuah rumah besar. Namun saat aku hendak keluar mobil, tiba-tiba saja kaki ini terasa kaku. Rasanya aku enggan akan keluar mobil. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat dari dalam mobil. Ternyata benar, Ray keluar dengan seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya. Air mukanya terlihat berbeda dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Aku termenung, terpaku melihat pasangan baru itu. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku menangis, terisak didalam mobil ini. Segera ku-gas mobil ini, manjauhi rumah bercat putih itu.
Aku termenung, tertunduk. Aku menangis,sambil mendekap kakiku. Tertunduk, terisak, di kamar bercat biru ini. Ternyata ini yang disembunyikan Ray saat berada di Bali dulu, batinku sambil terus terisak.
 Setelah kejadian itu, aku segera memesan tiket pesawat, aku memutuskan untuk pulang ke Bali.
***
Tuhan, mungkin semua telah menjadi takdirmu untukku? Mungkin semua adalah yang terbaik untukku, aku tahu Tuhan, aku sangat mencintainya. Dan dia juga mencintaiku.
....
Tujuh tahun sudah seutas benang merajut kisah cinta antara aku dan dia di rumah pohon ini. Kau telah membantuku merajut kisah cinta bersama Ray, kau seperti sebuah jarum yang dengan tulusnya merajutkan sehelai kain sutera, dan dengan tulusnya kau menjaga seutas benang yang selalu berpangku padamu. Hingga kamu menjadi berkarat. Dan hingga rumah ini tak segagah dulu. Terimakasih, engkau telah membantuku merajut kisahku bersama Ray, kau telah mempertemukan kami disini, kau juga telah memisahkan kami disini. Aku banyak berhutang padamu, aku berharap setelah pulang dari  Jerman nanti, takkan ada yang menghancurkanmu, dan aku masih ingin melihatmu bersandar dengan gagah di pohon ini.
....
Ray, meskipun kita berpisah, tapi aku yakin hati ini tetap tak dapat untuk dipisahkan .Kau telah mau bersamaku merajut kisah cinta sederhana di rumah ini. Aku akan selalu ingat denganmu, karena kau telah menjadikan motivasi di dalam diriku ini, hingga aku bisa menjadi seperti ini.
Ray, aku mencintaimu.
Kucukupkan pena biru ini untuk menulis. Kini aku hanya terdiam, memandangi rumah pohon ini, sebelum aku akan pergi untuk melanjutkan studiku ke Jerman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar