Rumah
Pohon
Oleh : B. Husnayain
Siang
ini aku capek sekali, pikiranku penat dengan seabreg kegiatan sekolah hari ini.
Aku langsung merebahkan tubuhku di springbad
warna biru yang siap menopang tubuhku kapanpun aku mau. Kupandangi seisi
kamarku ini, semuanya serba warna biru. Sebenarnya biru bukanlah warna
favoritku, namun entah mengapa saat Papa menanyakan tentang warna kamarku
dengan mantabnya aku langsung menjawabnya dengan warna biru. Tiba-tiba
pandanganku terhenti pada sebuah foto berpigura biru yang masih terpajang
dengan anggunnya di dinding kamarku. Aku segera beranjak bangun mengambil foto
itu. Kupandangi sosok laki-laki yang duduk bersamaku di rumah pohon, Ray. Kami
berdua terlihat sangat cocok di foto itu. Aku tersenyum, kali ini foto itu
telah menghilangkan sedikit rasa penat yang ada di pikiranku.
Dua
tahun lalu Ray selalu ada disini menemani hari-hariku. Menghabiskan waktu
bersama di rumah pohon. Namun, saat dia lulus SMA, dia harus pindah ke Bandung,
dengan alasan bersekolah disana. Tapi, mengapa selama ini dia tidak pernah
mengirim kabar? Apa dia lupa denganku? pikirku. Aku segera kembalikan foto itu
di tempat semula, kupajang dengan baik.
Tiba-tiba
lamunanku dibuyarkan oleh suara Mama yang memanggilku dari bawah.
“Fika…
cepat turun, Mama mau bicara sebentar” teriak Mama.
Aku
segera menuruni anak tangga, menemui Mama yang sudah berdiri di depan tangga
bersama Papa.
“Ada
apa Ma?” tanyaku.
“Hari
ini Mama dan Papa akan pergi ke Denpasar, di kantor Papa. Karena disana ada
tamu Papa dari Singapura. Mungkin Papa dan Mama akan menginap, dan akan pulang
besok” jelas Mama, aku mengangguk paham. Papa dan Mama pun langsung berangkat.
Kini
aku hanya di rumah sendirian, Papa dan Mama pergi, sedangkan Kakakku sedang
berada di rumah Paman di Yogyakarta, hanya ada aku, Simbok dan Pak Ujang.
Tiba-tiba aku memiliki ide untuk mengisi kegiatan hari Minggu besok, aku akan
pergi ke rumah pohon, mungkin itu bisa sedikit mengobati rasa rinduku pada Ray.
***
Hari
ini aku bangun lebih pagi daripada hari-hari Minggu biasanya. Setelah sarapan
dan berpamitan dengan Simbok, aku berangkat dengan berjalan kaki menuju rumah
pohon yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Kini rumah pohon ini tak segagah dan
sekuat dulu, sudah banyak kayu-kayu yang lapuk, bahkan rumah pohon bercat biru
itu tak seperti dulu lagi, warnanya telah luntur.
Sesampainya
disana, aku segera naik keatas. Indah
sekali melihat pemandangan semua ini dari atas rumah pohon, sejuk dan asri
rasanya. Saat aku sedang asyik melihat burung-burung yang sedang
kejar-mengejar, seseorang menutup kedua mataku dengan tangannya.
“Coba
tebak siapa aku?” kata seseorang dengan suaranya yang berat, suara lelaki.
Aku
berpikir, mencoba menebak siapa orang ini. Mengapa tiba-tiba datang dan menutup
mataku, aneh.
“Pak
Ujang ya?” sambarku asal.
Orang
itu lantas melepas tangannya, aku segera menoleh siapa yang menutup mataku itu?
Betapa kagetnya aku saat melihat Ray dibelakangku sambil tersenyum. Aku segera
memeluknya erat, tak kusangka dia datang tanpa kuduga sebelumnya.
“Ray?
Ini beneran kamu?” tanyaku meyakinkan.
Dia
mengangguk dengan senyum yang mengembang di pipinya. Aku memeluknya lagi,
rasanya ini seperti sebuah mimpi.
“Aku
nggak mimpikan?” tanyaku sambil mencubit-cubit pipiku.
“Kamu
nggak mimpi kok, ini benar-benar aku, Ray” jawabnya dengan lugu. Dia masih sama
seperti dulu, pikirku.
Aku
tersenyum puas, karena ini bukan mimpi, dan karena ini sebuah kejutan yang tak
terduga.
“Aku
nggak nyangka kamu akan kesini?” ujarku mengawali percakapan di rumah pohon
ini, setelah selama dua tahun tak ada percakapan antara aku dan Ray disini.
“Ini
kejutan” jawabnya, namun kali ini aku melihat sorotan matanya berbeda, air
mukanya berubah dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku
sempat curiga dengan sorot matanya, namun aku tak menggubrisnya, karena aku
sangat senang dia ada disini.
“Kamu
tambah cantik Fik, kamu juga tambah tinggi, dan pastinya kamu udah nggak
semanja dulu” kata Ray sambil mencubit pipiku. Aku hanya tersenyum, sambil
sesekali memandanginya, dia semakin terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
“Tapi
Ray, kamu nggak papakan?” tanyaku memberanikan diri untuk bertanya.
Ray
tertunduk, diam. Aku sempat merasa bersalah menanyakan hal ini, tapi aku tidak
bisa menyembunyikan rasa penasaranku pada Ray.
“Aku
nggak papa kok, mungkin ini karena aku terlalu memikirkan kuliahku” bisik Ray
bahkan hampir tak terdengar.
Aku
tersenyum lega, senang rasanya dugaanku tentang banyak masalah yang dipikirkan
Ray ternyata salah. Ternyata Ray seperti ini karena memikirkan kuliahnya.
Kami
tersenyum bersamaan, meskipun sepertinya, senyum Ray terlihat terpaksa. Tak
terasa kami berdua telah bercakap-cakap hingga sore hari, tapi meskipun begitu
aku tidak merasakan lapar. Meskipun Ray sepertinya sedang menyembunyikan
sesuatu, dan terkadang hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan dan
gelengan.
Sebenarnya
Ray kenapa?
“Ray,
sudah sore nih, pulang yuk?” ajakku.
“Em,
oke. Tapikan rumahku sudah tidak disini lagi, jadi lebih baik aku langsung
pulang ke Bandung” jawab Ray terlihat serius.
“Haha,
itu nggak lucu” jawabku terkekeh.
“Aku
serius Fik” sambar Ray, semakin serius.
Aku
memandangnya sekilas, pandangannya kali ini benar-benar terlihat serius.
“Kok
gitu sih, apa kamu nggak kangen sama mbok Ningsih?” candaku, berusaha tetap
menghangatkan suasana, tak ingin kehilangan Ray lagi.
Kami
berdua pun tertawa.
Berkali-kali
Ray menolak ajakanku, tapi karena aku semakin memaksanya, akhirnya Ray mau juga
aku ajak pulang. Setibanya di rumah, ternyata simbok sudah menungguku di depan
gerbang, sambil berlari Mbok Ningsih menghampiriku.
“Non,
kok baru pulang? Simbok khawatir Non” kata simbok dengan nafas tersengal.
Aku
tersenyum kearah wanita yang sudah tua ini.
“Maaf
ya Mbok, aku tadi nggak ngabarin. O iya Mbok, tolong bersihin kamar untuk tamu
ya Mbok, kita kedatangan tamu spesial nih” bisikku pada simbok sambil melirik
Ray yang berdiri di sampingku.
Simbok
mengangguk sambil memandangi Ray lekat-lekat.
“Non,
bukannya yang disamping itu Den Ray, pacarnya Non Fika itu ya?” tanya simbok
sambil sesekali melirik Ray. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Ya Gusti, ini den Ray pacarnya Non Fika, kok
tambah ganteng aja ya? Simbok sampai nggak mengenali, maklum sudah tua den”
ujar simbok dengan tersenyum malu-malu.
Ray
hanya membalasnya dengan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Papa
dan Mama menyambut Ray dengan baik, selesai mandi aku mengajak Ray ke taman
belakang rumah sambil melihat pemandangan malam yang penuh dengan gemerlap
bintang.
“Ray,
kamu masih ingat nggak saat kamu ngasih aku cincin karet” tanyaku memulai
pembicaraan di malam yang sejuk ini.
Namun,
kali ini Ray hanya diam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang
membuatnya seperti ini.
“Coba
lihat ini” kataku sambil memperlihatkan sebuah cincin karet dari sebuah kotak
tempat aku menyimpan cincin tersebut.
Ray
menoleh, ia terus memperhatikan cincin karet yang aku tunjukan itu. Dia
memandang dengan sorotan mata aneh. Dan semakin lama aku mulai sadar kalau
sebenarnya Ray sedang benar-benar menyembunyikan sesuatu.
“Besok
kamu bisa anterin aku nggak?” tanyaku menyadarkan Ray dari lamunannya.
“Kemana?
Memang kamu nggak sekolah?” tanya Ray.
“Besokkan
tanggal merah?” jawabku.
Ray
kembali terdiam, setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia menjawab.
“Maaf,
tapi aku nggak bisa, banyak agenda yang harus aku selesaikan selama ada disini”
jawab Ray yang membuatku kecewa.
Malam
ini, aku merasa hubunganku dengan Ray tak seperti dulu lagi. Dia seperti orang
asing bagiku. Kami seperti baru bertemu beberapa menit yang lalu. Dan untuk
kali ini tak banyak yang kami perbincangankan.
***
Paginya
dengan diantar oleh Pak Ujang, aku pergi ke sebuah toko perhiasan di pusat kota
Denpasar. Rencananya aku ingin mengganti cincin karet itu dengan cincin
sungguhan. Ingin membuat kejutan untuk Ray. Tapi betapa kagetnya aku saat
bertemu Ray yang juga sedang memilih cincin disana.
“Ray?”
panggilku.
Muka
Ray seketika itu langsung berubah, wajahnya terlihat takut, dan sangat
bersalah. “aneh”. Tapi aku segera meninggalkan prasangka-prasangka burukku.
Mungkin Ray sengaja bilang dia banyak urusan karena dia akan memberiku kejutan,
gumamku senang.
***
Seminggu
setelah pertemuanku dengan Ray di toko perhiasan itu. Aku tak pernah lagi
bertemu dengannya. Entah kemana dia sekarang. Aku telah banyak mencari info
tentang keberadaannya, namun hasilnya nihil. Papa, Mama, dan Kakak menyuruhku
agar tidak terlalu larut dalam masalah ini, karena sebentar lagi aku akan menghadapi
UN.
“Sudahlah,
mungkin Ray tidak sempat berpamitan denganmu, jadi dia langsung balik ke
Bandung. Lagipula kamu harus fokus ke ujianmu dulu, kan kalau nilai ujianmu
bagus kamu mudah cari kuliah, dengan begitu kamu akan dengan mudah kuliah di
Bandung” hibur Mama.
Aku
termenung mecoba memahami setiap kata-kata yang di lontarkan Mama. Benar juga,
gumamku. Kini aku mulai mengatur semuanya, aku belajar lebih giat, aku tidak
pernah lagi membolos les. Semua ini hanya untuk Ray agar aku bisa kuliah di
Bandung.
***
Lima
bulan sudah aku berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik agar aku bisa dengan
mudahnya kuliah di Bandung, dan ternyata perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Aku mendapat
rangking kedua se-Provinsi Bali. Itu membuat keluargaku bangga, saking bangganya
Papa mengizinkanku untuk mengambil alih villa yang ada di Bandung dan
mengizinkanku tinggal disana.
“Jaga
diri baik-baik ya Nak, Mama dan Papa akan bangga melihat prestasimu yang akan
semakin baik” pesan Mama saat berada di bandara Ngurah Rai.
“Maaf,
Papa dan Mama tidak bisa mengatarkanmu sampai ke Bandung, karena Papa dan Mama
harus pergi ke Tokyo besok, sedangkan Kakakmu juga sedang sibuk dengan
pekerjaannya di Jakarta” jelas Papa, aku mengangguk paham.
“Tapi,
Mama sudah menyuruh kakakmu untuk manjengukmu sesekali” timpal Mama,
“Nggak
papa Ma, Fika bisa jaga diri kok”
Akhirnya
pesawat Garuda yang membawaku terbang ke Bandung berangkat. Sebenarnya di
perjalanan aku masih ragu, mengapa aku secepat ini memilih keputusan, pikirku.
Mengapa aku memilih pergi ke Bandung daripada mengambil beasiswa ke Jerman,
batinku lagi. Aku terngiang, memikirkan ini semua. Namun lamunanku membuat aku
merasa sangat cepat tiba di Bandung.
Setibanya
di Bandung aku di jemput oleh penjaga villa Papa. Aku beristirahat sebelum
selanjutnya akan mendaftarkan kuliah.
Tiga
hari sudah aku disini, dan aku sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk
bekalku mendaftar kuliah nanti. Karena sampai sekarang aku belum juga bertemu
Ray.
“Besok
aku akan mencoba mencari alamatnya lagi” ujarku sebelum tidur.
***
Pagi
ini, dengan mengendarai mobil villa, aku melaju entah kemana. Mencoba mencari
sebuah alamat. Tiba-tiba saja saat aku melewati sebuah pasar, aku melihat Ibu
Ray sedang berbelanja disana. Ya, Ibu Ray. Aku pun segera turun. Ibu Ray tampak
lebih tua dan kurus.
“Ibu,
Ibunya Ray kan?” tanyaku meyakinkan.
“Iya,
anda siapa ya?” tanyanya sambil memandangiku dalam-dalam.
“Bu,
ini saya Fika. Pacarnya Ray” kataku.
Perempuan
itu tampak berfikir, setelah dia ingat. Dia nampak gemetar dan ingin berlari
menjauh dariku, entah mengapa? Padahal selama di Bali dulu, Ibu Ray sangat baik
denganku. Tapi untunglah aku berhasil mencegahnya sebelum ia berlari
meninggalkanku.
Akhirnya
aku berhasil mengajak Ibu Ray pulang, rumah yang dihuni Ibu Ray kini sangat
sederhana. Berbeda sekali saat masih berada di Bali dulu. Akhirnya aku
mengatakan maksud kedatanganku kesini. Tiba-tiba saja Ibu Ray menangis, dan
memelukku erat.
“Maafkan
aku… maafkan aku nak Fika” katanya sambil terisak.
“Mengapa
Ibu harus minta maaf?” tanyaku kebingungan.
“Sebenarnya,
Ray-” kalimatnya terhenti, sepertinya ia
tak sanggup melanjutkannya lagi. Aku terpaku melihat perempuan ini menangis
sambil merangkulku erat. Sebenarnya ada apa ini?
“Gara-gara
Ibu, Ray tidak bisa melanjutkan hubungan denganmu Nak, maafkan Ibu” kata Ibu
Ray.
Sebuah
kalimat pendek yang mampu membuatku terpaku dalam satu nama “Ray”.
“Ibu,
Ibu ngomong apa?” tanyaku mencoba untuk tetap tegar.
“Ray,
sudah menikah” jawab perempuan itu sambil terisak.
Aku
mencoba tetap tegar, namun sekarang aku tak sanggup membendung air mata ini.
Air mata pun menetes. Aku menangis.
“A…
apa? R… Ray me… me… ni… kah?” tanyaku
terbata-bata.
Perempuan
itu mengangguk pelan. Dan menarik nafas panjang.
“Itu
semua karna Ibu, nak. Seandainya kalau saat itu Ibu tidak kecelakaan,
seandainya kalau saat itu, Ibu tidak koma. Seandainya semua itu tidak terjadi.
Seandainya…” Ibu itu menangis, kini tangisannya semakin menjadi-jadi.
Aku
ikut menangis, tak dapat menahan semua yang telah terjadi.
***
“Coba
kalau Ray tidak bertemu dengan perempuan itu, pasti Ray tidak akan menikah
dengannya. Saat itu, tiga bulan yang lalu, Ibu kecelakaan, dan mengalami koma.
Tidak ada uang untuk perawatan Ibu. Dan saat itu juga Ray harus membayar uang
untuk kuliahnya dan ia bertemu dengan seorang perempuan yang akan menolong
kami, dan perempuan itu telah membantu Ibu. Saat Ibu sembuh perempuan itu
kembali, dan betapa kagetnya kami, saat perempuan itu meminta imbalan, ia ingin
Ray menjadi suaminya” jelas Ibu itu, saat aku meminta penjelasan.
Air
mataku kembali menetes, tak dapat kubendung lagi air mata ini. Aku menangis.
Namun, aku harus tau dimana rumah Ray sekarang.
“Bu,
kalau beoleh saya tau, dimana rumah Ray sekarang? Aku ingin bertemu dengannya,
dan mengucapkan selamat” kataku dengan suara berat.
Awalnya
wanita tua itu enggan akan memberitahu alamat Ray, namun karena aku terus
mendesaknya, akhirnya perempuan itu memberikannya.
“Terimakasih
Bu, kalau begitu Fika pamit dulu” kataku sambil beranjak dari kursi kayu yang
mulai rapuh itu.
Tapi
tangan keriput itu, lebih dulu menarik tanganku sebelum aku pergi.
“Nak,
sebelum Ray menikah, dia pernah bilang kalau satu-satunya perempuan yang ada di
hatinya hanyalah kamu. Dia sangat sayang padamu, hanya kamu yang ada dihatinya”
kata perempuan itu.
Aku
tersenyum, dan pergi. Selama didalam mobil, aku hanya bisa menangis, dan terus
menangis. Mengapa semua ini harus terjadi?
***
Pagi
ini aku berangkat ke sebuah alamat yang diberikan oleh Ibu Ray. Setibanya di alamat
itu, aku melihat sebuah rumah besar. Namun saat aku hendak keluar mobil,
tiba-tiba saja kaki ini terasa kaku. Rasanya aku enggan akan keluar mobil.
Akhirnya aku memutuskan untuk melihat dari dalam mobil. Ternyata benar, Ray
keluar dengan seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya. Air mukanya terlihat berbeda dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Aku
termenung, terpaku melihat pasangan baru itu. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku
menangis, terisak didalam mobil ini. Segera ku-gas mobil ini, manjauhi rumah
bercat putih itu.
Aku
termenung, tertunduk. Aku menangis,sambil mendekap kakiku. Tertunduk, terisak,
di kamar bercat biru ini. Ternyata ini yang disembunyikan Ray saat berada di
Bali dulu, batinku sambil terus terisak.
Setelah kejadian itu, aku segera memesan tiket
pesawat, aku memutuskan untuk pulang ke Bali.
***
Tuhan, mungkin semua telah menjadi takdirmu untukku? Mungkin
semua adalah yang terbaik untukku, aku tahu Tuhan, aku sangat mencintainya. Dan
dia juga mencintaiku.
....
Tujuh tahun sudah seutas benang merajut kisah cinta antara aku
dan dia di rumah pohon ini. Kau telah membantuku merajut kisah cinta bersama
Ray, kau seperti sebuah jarum yang dengan tulusnya merajutkan sehelai kain
sutera, dan dengan tulusnya kau menjaga seutas benang yang selalu berpangku
padamu. Hingga kamu menjadi berkarat. Dan hingga rumah ini tak segagah dulu.
Terimakasih, engkau telah membantuku merajut kisahku bersama Ray, kau telah
mempertemukan kami disini, kau juga telah memisahkan kami disini. Aku banyak
berhutang padamu, aku berharap setelah pulang dari Jerman nanti, takkan ada yang
menghancurkanmu, dan aku masih ingin melihatmu bersandar dengan gagah di pohon
ini.
....
Ray, meskipun kita berpisah, tapi aku yakin hati ini tetap tak
dapat untuk dipisahkan .Kau telah mau bersamaku merajut kisah cinta sederhana
di rumah ini. Aku akan selalu ingat denganmu, karena kau telah menjadikan
motivasi di dalam diriku ini, hingga aku bisa menjadi seperti ini.
Ray, aku mencintaimu.
Kucukupkan
pena biru ini untuk menulis. Kini aku hanya terdiam, memandangi rumah pohon
ini, sebelum aku akan pergi untuk melanjutkan studiku ke Jerman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar