Segores Tinta untuk Emak…
“Mak,
ini hasil penjualan daun singkong yang Ujang jual tadi” kataku sambil
menyodorkan tiga lembar uang kertas seribuan.
Dengan
tangan keriputnya Emak mengambil uang kertas yang kusodorkan. Tatapanku tak
lepas dari beberapa uang kertas yang di bawa Emak. Ingin rasanya aku bilang ke
Emak kalau pulpen milik bapak sudah tak dapat untuk menulis, sedangkan selama
ini aku tak pernah memiliki sebuah pensil.
“Ya sudah nak, sekarang Emak
mau memberi makan kambing dulu. Nanti takut kalau Pak Bagas marah, karena
kambingnya nggak di beri makan” kata Emak sambil bergegas keluar rumah dengan
kakinya yang pincang.
Emak
menderita sakit gula sejak dua tahun lalu, dan itu membuat Emak semakin kurus.
Bahkan, Emak sudah tidak bisa berjalan sesempurna dulu. Emak berjalan dengan
bantuan tongkat kayu yang ia dapat dari kebun Bu Siti.
Pikiranku
melambung jauh di sebuah tempat dimana disana akan banyak sekali sebuah pulpen
dan pensil. Ingin rasanya meminta selembar uang Emak tadi untuk membeli sebuah
pulpen. Kupandangi kertas kosong yang ada di tanganku, kemudian ku pandangi
selembar Koran yang aku dapat dari memungut di pinggir jalan tadi. Koran kusut
ini bertuliskan sebuah berita penting bagiku, sebuah pengumuman lomba mengarang
yang diadakan oleh tim redaksi Jawa Pos. Meski hadiahnya tak seberapa, namun
aku yakin bahwa hadiah itu bisa di tukarkan oleh beberapa kilo beras dan lebih
dari satu pulpen.
Dengan
pulpen milik Bapak, aku menulis. Pulpen butut yang aku dapatkan dari saku
kemeja bapak, bahkan saking lamanya, pulpen ini sudah tidak menyerupai pulpen.
Aku kembali menatap pulpen butut milik bapak, akankah pulpen ini masih bisa
untuk menggoreskan setiap kata yang akan kutulis nanti?
Kini
pandanganku tertuju pada beberapa kertas yang ada di depanku. Tiba-tiba aku
melihat bayangan bapak ada di kertas itu. Bayangan bapak telah membawaku ke
masa lalu, masa suram saat bapak masih disini.
Ketika
kami masih hidup serba berkecukupan, tak kurang dan tak lebih. Ketika itu bapak
adalah seorang petani yang bekerja di sawah milik bapak sendiri. Dan saat itu,
aku masih bisa mengenakan seragam biru putih. Tapi, ketika seseorang telah
datang dan mengelabuhi bapak untuk menjadi CPNS, hidup kami mulai berubah.
Membuatku berhenti sekolah karena tak dapat membayar uang SPP yang sudah
berbulan-bulan nunggak. Bapak telah dilabuhi oleh salah satu tokoh masyarakat
yang meminta sumbangan untuk kampanye saat pemilu nanti. Kata orang itu, bapak
bisa mendaftarkan diri sebagai CPNS kalau bapak mau memberi sumbangan pada
orang itu untuk membantu biaya kampanye. Hampir ratusan juta bapak mengeluarkan
uang untuk orang itu, agar bapak bisa mengikuti tes CPNS dan akhirnya menjadi
PNS, bahkan bapak sampai rela menjual sawahnya karena bapak telah terhipnotis
oleh orang itu. Hingga membuat bapak terjebak diantara tumpukan hutang.
Teringat
ketika bapak dengan senyum mengembangnya telah membawa seberkas map dengan
memakai sepatunya keliling kampung. Bapak selalu mengenakan kemeja warna
cokelat yang hampir menyerupai seragam PNS. Dan anak-anak kecil selalu
melempari bapak dengan batu kerikil. Dan saat itu bapak telah divonis sakit
jiwa, hingga membuat bapak selalu berpenamilan seperti PNS dan keliling
kampung. Hingga suatu saat bapak mengamuk. Dan membuat bapak berlari menuju
jalan raya, bersamaan dengan itu sebuah truk dengan kecepatan tinggi telah
menabrak bapak. Seketika itu bapak meninggal, tubuhnya telah dibanjiri darah.
Ketika
aku dan Emak satu-satunya orang yang membela bapak meminta sebuah pertanggung
jawaban. Sopir truk itu hanya bilang dengan lantangnya tanpa merasa bersalah
sedikitpun,
“Bapakmu
itu hanya orang gila, ngapain mesti di pertanggung jawabkan”
Tiba-tiba
air mataku menetes, membasahi pelupuk mataku. Bayangan bapak telah membawaku
jauh kemasa suram, dua tahun lalu. Suara langkah Emak membuatku tuk segera menghapus
air mataku. Karna Emak pasti marah jika melihatku menangis karna teringat
bapak.
Segera
kuambilkan sebaskom air hangat untuk Emak, untuk menghilangkan sedikit rasa
lelah Emak serta untuk mengompres kaki Emak yang mulai mengurus karna
penyakitnya itu. Kaki keriputnya kini terlihat lebih hitam daripada dulu. Aku
memijit-mijit kaki Emak dan hendak ku masukkan kedalam baskom berisi air hangat
yang sudah kusiapkan.
Namun,
Emak segera menghindar menjauhi baskom berisi air hangat itu.
“Sudahlah nak, tidak usah pakai air hangat.
Lebih baik air itu untuk kita minum. Kan sayang” kata Emak sambil mengambil
baskom itu.
“Tapi Mak, paling tidak ini bisa menghilangkan
sedikit rasa lelah emak. Dan ini juga bisa menghangatkan tubuh Emak, ini juga
bisa mengompres kaki Emak yang semakin terasa kaku itu” jawabku.
Emak
menghela nafas panjang, menatapku dalam. Di matanya terselip sebuah rasa iba
yang begitu besar.
“Nak,
Emak tidak apa-apa. Tuhan telah mentakdirkan Emak seperti ini, ya sudah
diterima saja. Lagipula setiap hari emak juga selalu merasakan lelah, bagi emak
itu adalah sebuah makanan yang harus emak santap setiap harinya” kata Emak
dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Tapi
Mak, tidak berarti sebuah takdir harus dibiarkan begitu saja. Kita bisa
mengubah sebuah takdir kok Mak, asalkan Tuhan menghendaki” sambarku.
“Sudahlah nak, kamu selalu saja menjawab semua
kata Emak. Kapan kata-kata emak kamu patuhi tanpa sebuah protesan dari mulut
kamu” kata emak sambil meninggalkanku di ruang tengah dengan membawa sebaskom
air hangat itu.
Ternyata
keadaan yang begitu susah ini telah membuat Emak untuk menghiraukan
kesehatannya. Tiba-tiba air mataku kembali menetes melihat emak yang kewelahan
untuk berjalan.
***
Pagi-pagi
buta, seusai sholat subuh dengan di temani sebuah lampu teplok aku mencoba untuk
menulis dengan susah payah. Kugoreskan pulpen butut itu membentuk sebuah huruf
yang akan membentuk setiap kata. Meski aku harus beberapa kali menggoyangkan
pulpen berwarna hitam itu, tapi itu tak mengikis semangatku untuk mengikuti
lomba di Koran itu.
Ternyata,
dari tadi emak mengamatiku. Ia pun berjalan mendekatiku dan membawa sesobek
Koran yang berisi pengumuman lomba menulis itu.
“Apa
kamu mau mengikuti lomba ini?” tanya Emak sambil menunjukkan sesobek Koran itu.
Aku
mengangguk pelan, menatap emak yang air mukanya berubah seketika aku mengangguk
mantap.
“Tapi,
emak tak merestuimu untuk mengikutinya” kata emak tegas.
“Lebih
baik kamu pergi ke kebun Bu Siti untuk membantu mengurusi kebunnya, dengan
begitu tenagamu tak akan sia-sia, dan itu akan menghasilkan uang” lanjut emak.
“Mak,
bukanya aku tidak mau membantu emak, tapi aku yakin dengan mengikuti lomba ini
aku bisa membantu emak untuk membeli berkilo-kilo beras dan paling tidak bisa
untuk membelikan emak obat” sergahku.
“Kamu
masih percaya dengan orang-orang atasan seperti mereka?” tanya emak, kini nada
emak semakin meninggi.
“Apa
kamu tak ingat kejadian dua tahun lalu? Ketika bapakmu di bohongi oleh
orang-orang atasan yang tak tahu dosa itu” kata emak berat, matanya kini mulai
berkaca-kaca.
Aku
menggeleng keras, mencoba mengelak semua pendapat emak yang salah itu.
“Mak,
semua orang atasan tidak seperti itu, Tuhan telah menciptakan hambanya dengan
beragam sifat. Aku yakin, lomba ini tak akan bohong” sergahku pada Emak.
“Tapi
emak nggak mau mengulang pengalaman pahit yang kedua kalinya nak, emak nggak mau” kata Emak.
“Mak,
kertas ini, pulpen ini, dan setiap goresan tinta pulpen yang membentuk huruf
disetiap kata-kata ini, aku persembahkan untuk emak. Aku membuatnya dengan
sepenuh hati. Dan aku yakin, hasil dari setiap kata yang aku tulis disini dapat
kembali mengisi lumbung beras yang sudah beberapa hari belakangan ini kosong,
aku yakin Mak” kataku meyakinkan emak.
“Pokoknya
emak tetap tidak akan merestuimu mengikuti lomba itu, emak nggak mau kehilangan
kamu, cukup kehilangan bapak sudah membuat emak begitu menderita” kata emak
sambil meninggalkanku di ruang tengah.
***
Aku
termenung, memikirkan kata-kata Emak. Kupandangi beberapa kertas yang ada di
genggamanku, ingin segera aku mengirimkannya ke tim redaksi. Namun, bayang-bayang
emak yang setia menghantui benakku membuat kakiku begitu sulit untuk di gerakkan.
Tiba-tiba
suara batuk emak menggema di seluruh ruangan di gubuk ini. Dengan tongkatnya emak
kembali mendatangiku.
“Nak, berhentilah mengerjakan pekerjaan
yang tidak ada gunanya itu, tinggalkan pekerjaan yang hanya akan membuang
waktumu itu, lebih baik engkau mencari sebuah pekerjaan yang akan
menguntungkanmu” kata Emak dengan nafas tersengal.
“Mak,
ini menguntungkan Ujang dan aku yakin ini juga akan menguntungkan emak. Ujang
janji, setelah Ujang mengirim cerita ini, beras di lumbung emak akan segera
terisi kembali” kataku sambil menyalimi tangan Emak yang sudah keriput itu.
Aku
merasakan aura kecewa di tangan Emak. Emak sama sekali tak bergerak, nafasnya
tersengal, terasa berat.
“Mak,
aku akan buktikan kalau karyaku ini akan membahagiakan Emak, dan aku janji
besok aku akan bisa membelikan emak beras dan obat untuk Emak” lanjutku sambil
mengayuh sepeda onthel milik bapak
yang sudah setengah berkarat.
***
“Mana
janji kamu, Emak sudah menunggu akan ada beras di lumbung ini, tapi yang emak
lihat hanyalah sebuah sarang laba-laba yang memenuhinya” kata Emak sambil menunjukkan
lumbung beras itu kearahku.
“Emak
nggak tau, apa yang membuat kamu begitu bersikeras ingin menulis. Tapi bagi
emak, menulis sama sekali tidak ada gunanya” ketus Emak.
“Sampai
kapan kamu akan percaya dengan semua itu? Sampai kapan? Sampai kamu benar-benar
akan kehilangan harta yang kamu sayangi?” timpal emak dengan nafas tersengal.
Aku
menoleh kearah emak, wajah emak tampak lebih pucat dari biasanya. Bahkan emak
tampak bersusah payah ketika melontarkan setiap kata yang ia ucap tadi. Aku
mulai khawatir, kebiasaan emak yang dilakukan
setiap paginya sudah tak ia kerjakan. Emak lebih banyak berbaring, suara
batuk emak juga lebih keras dari biasanya, hembusan nafas emak terasa begitu
berat. Entah apa yang akan terjadi aku tidak tau.
Tiba-tiba
seorang pemuda berbadan tinggi tegap mendatangi gubuk kami. Pemuda itu tampak
membawa sebuah tas, sebuah amplop, dan sebuah bingkisan. Dengan motor king
hitam yang ia parkir di depan gubuk yang sudah reot ini.
“Maaf,
apa benar anda yang bernama Ujang Arwanto, yang mengikuti lomba menulis yang
diadakan oleh Koran Jawa Pos” tanya pemuda itu.
Aku
mengangguk berat, seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Karya
anda telah mengguncangkan seluruh anggota tim redaksi, setiap kata yang anda
tuang di karya itu terlihat begitu hidup dan bernyawa, setiap kalimat yang anda
tulis di kertas itu benar-benar terlihat tulus dari jiwa anda, bahkan setiap
goresan tinta pulpen yang anda pakai menggambarkan begitu susahnya anda
menggunakan pulpen itu untuk menulis, karya anda benar-benar memiliki jiwa, bahkan
tidak sedikit anggota redaksi yang menitikkan air mata ketika melihat sebuah
pesan kecil yang tertulis disana, sebuah
goresan sederhana yang aku persembahkan untuk emak , kalimat itu begitu
hidup” kata pemuda itu.
Pemuda
itu pun memberikan sebuah amplop dan sebuah bingkisan kepadaku, tak lupa pemuda
itu juga menyuruhku menandatangani sebuah buku bertuliskan tanda terima.
Setelah semuanya beres, pemuda itu meminta pamit.
“Di
dalam bingkisan itu terdapat sekotak pulpen untuk anda menulis, anggota tim
redaksi sengaja menambahkannya, agar anda dapat mengembangkan hobi anda” kata
pemuda itu sebelum pergi meninggalkan gubuk kami.
Aku
menatap emak yang tampak tersenyum kearahku. Suara batuk emak masih menggema di
seluruh gubuk ini, bagai guntur yang sedang menggelegar. Dengan susah payah
emak berjalan mendekatiku, menunduk dan akhirnya terduduk di kakiku.
“Maafkan
emak nak, emak terlalu egois” kata Emak.
Aku bisa
merasakan betapa susahnya emak berbicara, nafasnya kini sudah merasa begitu
tersendat. Degup jantungnya berdetak begitu kencang.
“Mak,
emak nggak usah seperti ini. Emak tidak salah kok, emak bangun mak” kataku
sambil mencoba mengangkat badan emak yang tampak begitu lunglai.
Tiba-tiba
suara batuk emak sudah tak terdengar lagi, tubuh emak kaku seketika. Kucoba
untuk mencari suara degup jantung emak yang tadi terlihat begitu keras, namun
tak kunjung kutemukan.
“Emaaak”
teriakku sambil menggoyangkan tubuh emak yang sudah kaku.