Selasa, 11 Desember 2012

Cerpen



Segores Tinta untuk Emak…

“Mak, ini hasil penjualan daun singkong yang Ujang jual tadi” kataku sambil menyodorkan tiga lembar uang kertas seribuan.
Dengan tangan keriputnya Emak mengambil uang kertas yang kusodorkan. Tatapanku tak lepas dari beberapa uang kertas yang di bawa Emak. Ingin rasanya aku bilang ke Emak kalau pulpen milik bapak sudah tak dapat untuk menulis, sedangkan selama ini aku tak pernah memiliki sebuah pensil.
“Ya sudah nak, sekarang Emak mau memberi makan kambing dulu. Nanti takut kalau Pak Bagas marah, karena kambingnya nggak di beri makan” kata Emak sambil bergegas keluar rumah dengan kakinya yang pincang.
Emak menderita sakit gula sejak dua tahun lalu, dan itu membuat Emak semakin kurus. Bahkan, Emak sudah tidak bisa berjalan sesempurna dulu. Emak berjalan dengan bantuan tongkat kayu yang ia dapat dari kebun Bu Siti.
Pikiranku melambung jauh di sebuah tempat dimana disana akan banyak sekali sebuah pulpen dan pensil. Ingin rasanya meminta selembar uang Emak tadi untuk membeli sebuah pulpen. Kupandangi kertas kosong yang ada di tanganku, kemudian ku pandangi selembar Koran yang aku dapat dari memungut di pinggir jalan tadi. Koran kusut ini bertuliskan sebuah berita penting bagiku, sebuah pengumuman lomba mengarang yang diadakan oleh tim redaksi Jawa Pos. Meski hadiahnya tak seberapa, namun aku yakin bahwa hadiah itu bisa di tukarkan oleh beberapa kilo beras dan lebih dari satu pulpen.
Dengan pulpen milik Bapak, aku menulis. Pulpen butut yang aku dapatkan dari saku kemeja bapak, bahkan saking lamanya, pulpen ini sudah tidak menyerupai pulpen. Aku kembali menatap pulpen butut milik bapak, akankah pulpen ini masih bisa untuk menggoreskan setiap kata yang akan kutulis nanti?
Kini pandanganku tertuju pada beberapa kertas yang ada di depanku. Tiba-tiba aku melihat bayangan bapak ada di kertas itu. Bayangan bapak telah membawaku ke masa lalu, masa suram saat bapak masih disini.
Ketika kami masih hidup serba berkecukupan, tak kurang dan tak lebih. Ketika itu bapak adalah seorang petani yang bekerja di sawah milik bapak sendiri. Dan saat itu, aku masih bisa mengenakan seragam biru putih. Tapi, ketika seseorang telah datang dan mengelabuhi bapak untuk menjadi CPNS, hidup kami mulai berubah. Membuatku berhenti sekolah karena tak dapat membayar uang SPP yang sudah berbulan-bulan nunggak. Bapak telah dilabuhi oleh salah satu tokoh masyarakat yang meminta sumbangan untuk kampanye saat pemilu nanti. Kata orang itu, bapak bisa mendaftarkan diri sebagai CPNS kalau bapak mau memberi sumbangan pada orang itu untuk membantu biaya kampanye. Hampir ratusan juta bapak mengeluarkan uang untuk orang itu, agar bapak bisa mengikuti tes CPNS dan akhirnya menjadi PNS, bahkan bapak sampai rela menjual sawahnya karena bapak telah terhipnotis oleh orang itu. Hingga membuat bapak terjebak diantara tumpukan hutang.
Teringat ketika bapak dengan senyum mengembangnya telah membawa seberkas map dengan memakai sepatunya keliling kampung. Bapak selalu mengenakan kemeja warna cokelat yang hampir menyerupai seragam PNS. Dan anak-anak kecil selalu melempari bapak dengan batu kerikil. Dan saat itu bapak telah divonis sakit jiwa, hingga membuat bapak selalu berpenamilan seperti PNS dan keliling kampung. Hingga suatu saat bapak mengamuk. Dan membuat bapak berlari menuju jalan raya, bersamaan dengan itu sebuah truk dengan kecepatan tinggi telah menabrak bapak. Seketika itu bapak meninggal, tubuhnya telah dibanjiri darah.
Ketika aku dan Emak satu-satunya orang yang membela bapak meminta sebuah pertanggung jawaban. Sopir truk itu hanya bilang dengan lantangnya tanpa merasa bersalah sedikitpun,
“Bapakmu itu hanya orang gila, ngapain mesti di pertanggung jawabkan”
Tiba-tiba air mataku menetes, membasahi pelupuk mataku. Bayangan bapak telah membawaku jauh kemasa suram, dua tahun lalu. Suara langkah Emak membuatku tuk segera menghapus air mataku. Karna Emak pasti marah jika melihatku menangis karna teringat bapak.
Segera kuambilkan sebaskom air hangat untuk Emak, untuk menghilangkan sedikit rasa lelah Emak serta untuk mengompres kaki Emak yang mulai mengurus karna penyakitnya itu. Kaki keriputnya kini terlihat lebih hitam daripada dulu. Aku memijit-mijit kaki Emak dan hendak ku masukkan kedalam baskom berisi air hangat yang sudah kusiapkan.
Namun, Emak segera menghindar menjauhi baskom berisi air hangat itu.
“Sudahlah nak, tidak usah pakai air hangat. Lebih baik air itu untuk kita minum. Kan sayang” kata Emak sambil mengambil baskom itu.
 “Tapi Mak, paling tidak ini bisa menghilangkan sedikit rasa lelah emak. Dan ini juga bisa menghangatkan tubuh Emak, ini juga bisa mengompres kaki Emak yang semakin terasa kaku itu” jawabku.
Emak menghela nafas panjang, menatapku dalam. Di matanya terselip sebuah rasa iba yang begitu besar.
“Nak, Emak tidak apa-apa. Tuhan telah mentakdirkan Emak seperti ini, ya sudah diterima saja. Lagipula setiap hari emak juga selalu merasakan lelah, bagi emak itu adalah sebuah makanan yang harus emak santap setiap harinya” kata Emak dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Tapi Mak, tidak berarti sebuah takdir harus dibiarkan begitu saja. Kita bisa mengubah sebuah takdir kok Mak, asalkan Tuhan menghendaki” sambarku.
“Sudahlah nak, kamu selalu saja menjawab semua kata Emak. Kapan kata-kata emak kamu patuhi tanpa sebuah protesan dari mulut kamu” kata emak sambil meninggalkanku di ruang tengah dengan membawa sebaskom air hangat itu.
Ternyata keadaan yang begitu susah ini telah membuat Emak untuk menghiraukan kesehatannya. Tiba-tiba air mataku kembali menetes melihat emak yang kewelahan untuk berjalan.
***
Pagi-pagi buta, seusai sholat subuh dengan di temani sebuah lampu teplok aku mencoba untuk menulis dengan susah payah. Kugoreskan pulpen butut itu membentuk sebuah huruf yang akan membentuk setiap kata. Meski aku harus beberapa kali menggoyangkan pulpen berwarna hitam itu, tapi itu tak mengikis semangatku untuk mengikuti lomba di Koran itu.
Ternyata, dari tadi emak mengamatiku. Ia pun berjalan mendekatiku dan membawa sesobek Koran yang berisi pengumuman lomba menulis itu.
“Apa kamu mau mengikuti lomba ini?” tanya Emak sambil menunjukkan sesobek Koran itu.
Aku mengangguk pelan, menatap emak yang air mukanya berubah seketika aku mengangguk mantap.
“Tapi, emak tak merestuimu untuk mengikutinya” kata emak tegas.
“Lebih baik kamu pergi ke kebun Bu Siti untuk membantu mengurusi kebunnya, dengan begitu tenagamu tak akan sia-sia, dan itu akan menghasilkan uang” lanjut emak.
“Mak, bukanya aku tidak mau membantu emak, tapi aku yakin dengan mengikuti lomba ini aku bisa membantu emak untuk membeli berkilo-kilo beras dan paling tidak bisa untuk membelikan emak obat” sergahku.
“Kamu masih percaya dengan orang-orang atasan seperti mereka?” tanya emak, kini nada emak semakin meninggi.
“Apa kamu tak ingat kejadian dua tahun lalu? Ketika bapakmu di bohongi oleh orang-orang atasan yang tak tahu dosa itu” kata emak berat, matanya kini mulai berkaca-kaca.
Aku menggeleng keras, mencoba mengelak semua pendapat emak yang salah itu.
“Mak, semua orang atasan tidak seperti itu, Tuhan telah menciptakan hambanya dengan beragam sifat. Aku yakin, lomba ini tak akan bohong” sergahku pada Emak.
“Tapi emak nggak mau mengulang pengalaman pahit yang kedua kalinya nak, emak nggak mau” kata Emak.
“Mak, kertas ini, pulpen ini, dan setiap goresan tinta pulpen yang membentuk huruf disetiap kata-kata ini, aku persembahkan untuk emak. Aku membuatnya dengan sepenuh hati. Dan aku yakin, hasil dari setiap kata yang aku tulis disini dapat kembali mengisi lumbung beras yang sudah beberapa hari belakangan ini kosong, aku yakin Mak” kataku meyakinkan emak.
“Pokoknya emak tetap tidak akan merestuimu mengikuti lomba itu, emak nggak mau kehilangan kamu, cukup kehilangan bapak sudah membuat emak begitu menderita” kata emak sambil meninggalkanku di ruang tengah.
***
Aku termenung, memikirkan kata-kata Emak. Kupandangi beberapa kertas yang ada di genggamanku, ingin segera aku mengirimkannya ke tim redaksi. Namun, bayang-bayang emak yang setia menghantui benakku membuat kakiku begitu sulit untuk di gerakkan.
Tiba-tiba suara batuk emak menggema di seluruh ruangan di gubuk ini. Dengan tongkatnya emak kembali mendatangiku.
“Nak, berhentilah mengerjakan pekerjaan yang tidak ada gunanya itu, tinggalkan pekerjaan yang hanya akan membuang waktumu itu, lebih baik engkau mencari sebuah pekerjaan yang akan menguntungkanmu” kata Emak dengan nafas tersengal.
“Mak, ini menguntungkan Ujang dan aku yakin ini juga akan menguntungkan emak. Ujang janji, setelah Ujang mengirim cerita ini, beras di lumbung emak akan segera terisi kembali” kataku sambil menyalimi tangan Emak yang sudah keriput itu.
Aku merasakan aura kecewa di tangan Emak. Emak sama sekali tak bergerak, nafasnya tersengal, terasa berat.
“Mak, aku akan buktikan kalau karyaku ini akan membahagiakan Emak, dan aku janji besok aku akan bisa membelikan emak beras dan obat untuk Emak” lanjutku sambil mengayuh sepeda onthel milik bapak yang sudah setengah berkarat.
***
“Mana janji kamu, Emak sudah menunggu akan ada beras di lumbung ini, tapi yang emak lihat hanyalah sebuah sarang laba-laba yang memenuhinya” kata Emak sambil menunjukkan lumbung beras itu kearahku.
“Emak nggak tau, apa yang membuat kamu begitu bersikeras ingin menulis. Tapi bagi emak, menulis sama sekali tidak ada gunanya” ketus Emak.
“Sampai kapan kamu akan percaya dengan semua itu? Sampai kapan? Sampai kamu benar-benar akan kehilangan harta yang kamu sayangi?” timpal emak dengan nafas tersengal.
Aku menoleh kearah emak, wajah emak tampak lebih pucat dari biasanya. Bahkan emak tampak bersusah payah ketika melontarkan setiap kata yang ia ucap tadi. Aku mulai khawatir, kebiasaan emak yang dilakukan  setiap paginya sudah tak ia kerjakan. Emak lebih banyak berbaring, suara batuk emak juga lebih keras dari biasanya, hembusan nafas emak terasa begitu berat. Entah apa yang akan terjadi aku tidak tau.
Tiba-tiba seorang pemuda berbadan tinggi tegap mendatangi gubuk kami. Pemuda itu tampak membawa sebuah tas, sebuah amplop, dan sebuah bingkisan. Dengan motor king hitam yang ia parkir di depan gubuk yang sudah reot ini.
“Maaf, apa benar anda yang bernama Ujang Arwanto, yang mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh Koran Jawa Pos” tanya pemuda itu.
Aku mengangguk berat, seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Karya anda telah mengguncangkan seluruh anggota tim redaksi, setiap kata yang anda tuang di karya itu terlihat begitu hidup dan bernyawa, setiap kalimat yang anda tulis di kertas itu benar-benar terlihat tulus dari jiwa anda, bahkan setiap goresan tinta pulpen yang anda pakai menggambarkan begitu susahnya anda menggunakan pulpen itu untuk menulis, karya anda benar-benar memiliki jiwa, bahkan tidak sedikit anggota redaksi yang menitikkan air mata ketika melihat sebuah pesan kecil yang tertulis disana, sebuah goresan sederhana yang aku persembahkan untuk emak , kalimat itu begitu hidup” kata pemuda itu.
Pemuda itu pun memberikan sebuah amplop dan sebuah bingkisan kepadaku, tak lupa pemuda itu juga menyuruhku menandatangani sebuah buku bertuliskan tanda terima. Setelah semuanya beres, pemuda itu meminta pamit.
“Di dalam bingkisan itu terdapat sekotak pulpen untuk anda menulis, anggota tim redaksi sengaja menambahkannya, agar anda dapat mengembangkan hobi anda” kata pemuda itu sebelum pergi meninggalkan gubuk kami.
Aku menatap emak yang tampak tersenyum kearahku. Suara batuk emak masih menggema di seluruh gubuk ini, bagai guntur yang sedang menggelegar. Dengan susah payah emak berjalan mendekatiku, menunduk dan akhirnya terduduk di kakiku.
“Maafkan emak nak, emak terlalu egois” kata Emak.
Aku bisa merasakan betapa susahnya emak berbicara, nafasnya kini sudah merasa begitu tersendat. Degup jantungnya berdetak begitu kencang.
“Mak, emak nggak usah seperti ini. Emak tidak salah kok, emak bangun mak” kataku sambil mencoba mengangkat badan emak yang tampak begitu lunglai.


Tiba-tiba suara batuk emak sudah tak terdengar lagi, tubuh emak kaku seketika. Kucoba untuk mencari suara degup jantung emak yang tadi terlihat begitu keras, namun tak kunjung kutemukan. 

“Emaaak” teriakku sambil menggoyangkan tubuh emak yang sudah kaku.


Kamis, 06 Desember 2012

Karya Tulis



Pentingnya Pendidikan bagi negeriku…
Oleh : B. Husnayain

Di era globalisasi yang pesat dan serba bisa ini, bila tidak diimbangi dengan pendidikan yang mapan maka negera Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan negara-negara lain yang ada di dunia. Oleh karena itu sumber daya manusia yang cerdas, berwawasan luas, berpendidikan tinggi, dan berpengetahuan adalah tujuan utama hampir di setiap negara khususnya negara Indonesia. Seperti yang dikatakan dalam UUD 1945 alinea 4 yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa …” merupakan salah satu bukti bahwa itu termasuk salah satu cita-cita bangsa Indonesia yang telah disusun oleh para pendahulu-pendahulu kita.
Pendahulu kita bukanlah orang yang kaya, orang yang berpangkat, dan orang yang pintar. Mereka hanyalah orang-orang yang ingin mendapatkan kebebasan untuk mendapatkan kemerdekaan yang hakiki. Pernahkah kalian berfikir tentang bagaimana susahnya mereka mempertahankan setiap meter persegi tanah yang akan dijajah oleh para penjajah. Dengan berbekal keyakinan dan jiwa optimisme yang tinggi, mereka pun berhasil mewujudkan kemerdekaan.
Sebagai generasi untuk meneruskan perjuangan bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia harus memiliki keunggulan dan keteguhan agar dapat bersaing dengan negara-negara lain yang ada di dunia. Semua itu tak lepas dari diperlukannya sebuah pendidikan berkarakter yang unggul, memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, dan harus memahami kewajibannya sebagai warga negara Indonesia yang baik dan patuh terhadap Undang-undang dan pemerintah yang sah.
Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan bagi bangsa Indonesia adalah dengan adanya reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih etektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Meskipun banyak tantangan yang menghadang, namun kualitas pendidikan di Indonesia juga harus diwujudkan agar sumber daya manusia yang berwawasan luas, berpengetahuan, dan professional serta memiliki rasa percaya dan harga diri yang tinggi dapat terwujud sehingga dapat mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang sudah disusun oleh para pendahulu kita.