Akhir dari Sebuah Perjuangan…
Oleh : B. Husnayain
Di tengah teriknya matahari yang menyengat kota Jakarta, terlihat dua orang anak yang sedang asyik mengelap kaca mobil. Mereka adalah sepasang kakak beradik yang hidup di pinggiran jalan.
Di tengah teriknya matahari yang menyengat kota Jakarta, terlihat dua orang anak yang sedang asyik mengelap kaca mobil. Mereka adalah sepasang kakak beradik yang hidup di pinggiran jalan.
“Terimakasih,”
kata Dina sang adik, ketika sang pemilik mobil memberikan sehelai uang dua
ribuan.
Melihat
lampu sudah berganti hijau, kakak beradik itu segera menyingkir dan
beristirahat di emperan toko yang sedang tutup.
“Hari
ini kita dapat berapa kak?” tanya Dina sambil melirik kakaknya yang masih
menghitung uang yang tak banyak itu.
Dani,
kakaknya menarik nafas panjang, dan melirik adiknya sekilas.
“Alhamdulillah,
hari ini kita dapat sepuluh ribu, lumayan sih buat beli makan” jawab Dani sambil
tersenyum kearah Dina.
Tiba-tiba
Dina terpaku ketika melihat segerombolan anak sekolah lewat di depan mereka.
“Kak,
kapan ya aku bisa pakai seragam seperti mereka? Dan kapan ya, aku bisa punya
sepatu seperti mereka, aku kan juga ingin sekolah” kata Dina dengan sambil menarik nafas panjang.
“Apa
kakak sudah pernah sekolah?” tanya Dina lagi.
Dani
mengangguk, menatap dalam wajah damai Dina yang tampak bersedih itu.
“Apa itu
menyenangkan?” tanya Dina lagi.
Kali
ini, Dani benar-benar kasihan pada adiknya itu. Ia berusaha untuk tetap tegar, menahan
linangan air mata yang ingin keluar.
Dengan
sigap Dani segera menggeleng keras. Tak ingin adiknya mengetahui kesedihan yang
sedang ia bendung.
“Sekolah
itu nggak enak, kita cuma disuruh-suruh sama guru. Diperlakukan kasar” hibur Dani
mencoba menutupi masa-masa indah ketika ia masih bersekolah. Padahal,
sebenarnya Dani juga ingin melanjutkan sekolahnya.
“Apakah
guru itu akan memperlakukan kita sekasar Papa dan Mama ketika mereka sedang
bertengkar?” tanya Dina seakan tak percaya pada jawaban kakaknya.
Kali
ini, pertanyaan Dina benar-benar membuat Dani meneteskan air matanya.
Pikirannya melambung jauh pada keluarganya yang broken home. Ia tak habis pikir
mempunyai orang tua sekeji itu.
Andai
saja aku tidak mengajak Dina untuk kabur dari rumah, andai saja sang kakak
lebih memilih tinggal bersama Papanya mungkin adiknya bisa bersekolah, meski
harus mengorbankan tubuhnya untuk selalu dipukuli oleh Papa setiap harinya, pikir Dani.
“Kakak
kenapa nangis? Jangan-jangan Kakak ingat sama Papa Mama ya?” tanya sang adik
sambil merangkul kakaknya.
“Dik,
maafin kakak ya, gara-gara kakak. Kamu jadi begini, nggak bisa menikmati gimana
rasanya sekolah, dan nggak bisa mengejar cita-citamu jadi dokter” ujar Dani
sambil menghapus air matanya.
Dina
tertunduk, sedih. Keduanya pun saling membungkam mulut masing-masing, meratapi
nasib mereka nan malang. Hingga tiba-tiba, seorang anak laki-laki dengan menggunakan kursi roda mendatangi mereka.
“Kenapa
kalian disini? Kenapa kalian tidak pulang ke rumah? Hari ini matahari bersinar
sangat terik, apa kalian tidak kepanasan?” tanya bocah itu.
Kakak
beradik itupun mendongak, mencoba melihat anak laki-laki yang sedang
menghampiri mereka.Hingga membuat mereka sedikit tertegun dan bersyukur atas
keadaan tubuh mereka yang sempurna.
“Sedari
tadi aku mengamati kalian dari dalam mobil, apa yang kalian lakukan disini? Apa
kalian tidak sekolah?” tanya bocah itu.
Pertanyaannya
barusan membuat kakak beradik itu kembali menunduk, dan membuat anak laki-laki
itu kebingungan. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka
bertiga, memanggil sosok laki-laki bernama Dino. Lelaki yang menggunakan kursi
roda itu menoleh.
“Aku
pergi dulu ya, ini buat kalian” katanya sambil menyodorkan sehelai uang lima
puluh ribu.
***
“Jadi, selama
ini kalian tinggal di tempat seperti ini?” tanya Dino pada Dina dan Dani.
Pagi
ini, Dino mendatangi Dani dan Dina yang sedang duduk-duduk di dekat sungai Ciliwung. Meskipun hanya sekedar
bercakap-cakap dan saling bercerita tentang keseharian mereka masing-masing, tapi kakak
beradik itu terasa sangat senang karena mendapatkan teman baru, begitu juga
Dino.
“Iya,
beginilah hidup kami” jawab Dina lirih.
Sang
Kakak yang mengetahui perasaan Dina segera membelai rambut Dina yang tampak
kusut itu.
“Ini
masih pagi, apa kamu tidak sekolah Dino?” tanya Dani pada Dino.
Dino
menunduk, sedih.
“Bagaimana
aku bisa bersekolah dengan keadaanku yang seperti ini, keadaan ginjalku yang
semakin parah telah menguras seluruh tenaga di tubuhku, bahkan hingga membuatku
seperti ini, tak bisa berjalan, aku harus menggunakan kursi roda untuk pergi
ketempat yang kuinginkan” kata Dino sambil menahan air matanya yang hampir
menetes.
“Bahkan
kata dokter, umurku tidak akan lama lagi” kata Dino berat.
Dani dan
Dina saling berhadapan. Seakan tak percaya pada setiap kalimat Dino,
umur Dino yang hanya berselisih dua tahun dengan Dina, dan sebaya dengan Dani
seakan tak pantas untuk menerima cobaan seberat ini.
“Kamu
yang sabar ya Din, aku yakin di depan sana masih ada cahaya kehidupan yang sedang
menantimu” hibur Dani.
“Makasih
ya Dan, kamu benar-benar baik” kata Dino sambil tersenyum kearah Dani.
Hari-hari
mereka lewati bersama, setiap pagi Dino selalu mengunjungi Dani dan Dina. Kini, mereka seperti saudara kandung, begitu dekat
dan akrab.
Hingga
suatu saat sesuatu telah membuat mereka bersedih. Dino akan berobat ke Bandung,
dan itu membuat ketiganya merasa begitu sedih. Mereka bertiga telah diibaratkan makan sepiring dan tidur sebantal, bagaimana bisa tiba-tiba mereka harus berpisah.
“Aku
minta maaf, aku nggak nyangka kita akan berpisah secepat ini, aku janji setelah
aku sembuh nanti aku akan kembali kesini, aku janji” kata Dino sambil menahan
air matanya. Pertemuan mereka beberapa hari lalu telah begitu membekas, hingga
membuat mereka sangat bersedih.
“Doakan
aku ya kawan” kata Dino setelah berpelukan dengan Dani cukup lama.
Lambaian
tangan Dina dan Dani mengiringi setiap langkah Dino. Kini, kakak beradik itu
begitu sedih, dan merasa sepi. Dunia seakan menjadi saksi akan kepedihan
mereka.
***
“Dik,
nasi kamu kok masih utuh, kamu nggak makan?” tanya Dani pada Dina.
“Apa
kakak yakin akan ikut dengan Bang Salim, bukankah Bang Salim bukan orang
baik-baik” kata Dina lirih, membuat Dani berhenti untuk mengunyah.
Semalam,
Bang Salim datang ke menemui Dani dan Dina. Menawarkan sebuah
pekerjaan untuk Dani. Sebuah pekerjaan di Bandung dan hanya sekali kerja,
dengan upah kerja limaratus juta. Dani begitu setuju dengan tawaran Bang Salim,
meskipun sebenarnya Dina tidak menyetujui karena tidak ingin kehilangan kakak
satu-satunya. Tapi Dani bersikeras untuk mengikuti pekerjaan itu.
“Dik,
kalau Bang Salim bukan orang baik, lalu kenapa kakak ditawari pekerjaan sebagus
itu, sekali bekerja tapi upahnya sebegitu banyak. Dengan uang itu kamu bisa
bersekolah” kata Dani meyakinkan adiknya.
“Kakak
janji kakak selalu ada di dekatmu, meski di kehidupan nyata kakak jauh darimu, tapi kakak janji kalau
sebenarnya kakak ada di dekatmu” kata Dani lagi.
Awalnya
Dina bingung dengan kalimat Dani. Tapi karena Dani terus menghibur Dina membuat
Dina tidak begitu menggubris kalimat itu.
***
Malam ini, Dani berangkat ke gubug Bang Salim. Disana terlihat ada gerombolan orang
berbadan besar dengan tato hampir di seluruh tubuh. Awalnya Dani sungkan untuk
melanjutkan langkahnya menuju gubug Bang Salim ingin rasanya berpaling dan
kembali ke bawah jembatan menemui Dina yang mungkin sedang menangis karena
ditinggal Dani, namun tiba-tiba ia teringat akan keinginan adiknya untuk
bersekolah. Hingga membuatnya untuk berani melangkahkan kakinya menuju gubug Bang
Salim.
“Haha,
akhirnya kamu datang juga, om-om ini akan membawamu ke Bandung, dan kamu akan
bekerja disana” kata Bang Salim.
“Sekarang
cepatlah masuk ke mobil” timpal Bang Salim.
“Ta…
tapi sebelumnya, abang janjikan aku masih bisa bertemu dengan adikku” tanya
Dani terbata.
“Sudah,
cepat kamu masuk ke mobil, tak usah banyak tanya” jawab Bang Salim setengah
membentak. Membuat Dani ketakutan dan segera masuk ke mobil.
Ditengah-tengah
rasa ketakutan Dani pada Bang Salim, ia mencoba untuk mendengarkan perbincangan
Bang Salim pada orang-orang berbadan besar itu.
“Ini
tanda terimanya, cepat kamu tanda tangan disini” kata salah seorang berbadan
besar itu sambil menyodorkan sebuah buku.
“Ternyata
usia bocah tadi benar-benar sebaya dengan pasien yang ada di Bandung, aku yakin
ginjal bocah tadi akan cocok dengan bocah yang ada di Bandung” kata orang itu
lagi.
Dani
terpaku, takut. Ternyata dia telah menjadi korban penjualan ginjal anak. Kini
terlambat sudah, mobil sedan yang ia tumpangi telah membawanya meninggalkan
keganasan kota Jakarta dan meninggalkan semua kenangan bersama
adiknya, Dina. Kini, Dani telah pergi untuk selamanya.
***
Dina
yang sudah sebulan menunggu kepulangan kakaknya mulai merasa cemas dan sedih.
Dan membuatnya bersikeras untuk melaporkan hal ini pada polisi. Atas semua
laporan dan bukti kuat Dina pada polisi membuat Bang Salim dan para rekannya di tangkap dan di
penjara karena terduga menjadi pelaku penjualan ginjal anak.
Kini,
Dina begitu sedih. Melihat nasib kakaknya yang begitu malang. Kakaknya
telah pergi sebulan yang lalu meninggalkan semua kenangan dan kebaikannya
selama bersama dengan Dina.
Berita
tentang kisah Dani dan Dina pun mulai menyebar, membuat salah seorang Ibu
berniat untuk mengadopsi Dina menjadi anaknya dan akan menyekolahkan Dina
hingga Dina menjadi dokter seperti cita-citanya. Dina pun bersekolah hingga ia
mendapatkan gelar sebagai dokter.
Sementara
Dino baru bertemu Dina ketika Dina sedang wisuda. Mereka tak menyangka akan
bertemu disaat-saat seperti ini, Dina sama sekali tak menyangka akan menemui
Dino yang sudah sehat kembali. Ia begitu bersyukur dan bahagia, begitu juga Dino
yang juga tak menyangka bertemu dengan Dina yang sudah mendapatkan gelar dokter
itu. Hingga pertemuan mereka telah membuat mereka saling mencintai, dan
bersepakat untuk melanjutkan hidup bersama. Sekembalinya Dino dari Inggris,
Dina dan Dino segera melangsungkan acara pernikahannya.
Sementara
itu, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa ternyata ginjal yang ada di perut Dino
adalah ginjal milik Dani. Kini Tuhan benar-benar menepati janji Dani pada Dina
ketika di Jakarta dulu, bahwa Dani akan selalu ada di dekat Dina meski jasad
mereka jauh.
terharu deh bacanya :D tapi blm sampe nangis sih..._. wkwk
BalasHapussering posting ini :b
BalasHapus