Jumat, 08 Februari 2013

Cerpen


Akhir dari Sebuah Perjuangan…
 Oleh : B. Husnayain

Di tengah teriknya matahari yang menyengat kota Jakarta, terlihat dua orang anak yang sedang asyik mengelap kaca mobil. Mereka adalah sepasang kakak beradik yang hidup di pinggiran jalan.
“Terimakasih,” kata Dina sang adik, ketika sang pemilik mobil memberikan sehelai uang dua ribuan.
Melihat lampu sudah berganti hijau, kakak beradik itu segera menyingkir dan beristirahat di emperan toko yang sedang tutup.
“Hari ini kita dapat berapa kak?” tanya Dina sambil melirik kakaknya yang masih menghitung uang yang tak banyak itu.
Dani, kakaknya menarik nafas panjang, dan melirik adiknya sekilas.
“Alhamdulillah, hari ini kita dapat sepuluh ribu, lumayan sih buat beli makan” jawab Dani sambil tersenyum kearah Dina.
Tiba-tiba Dina terpaku ketika melihat segerombolan anak sekolah lewat di depan mereka.
“Kak, kapan ya aku bisa pakai seragam seperti mereka? Dan kapan ya, aku bisa punya sepatu seperti mereka, aku kan juga ingin sekolah” kata Dina dengan sambil menarik nafas panjang.
“Apa kakak sudah pernah sekolah?” tanya Dina lagi.
Dani mengangguk, menatap dalam wajah damai Dina yang tampak bersedih itu.
“Apa itu menyenangkan?” tanya Dina lagi.
Kali ini, Dani benar-benar kasihan pada adiknya itu. Ia berusaha untuk tetap tegar, menahan linangan air mata yang ingin keluar.
Dengan sigap Dani segera menggeleng keras. Tak ingin adiknya mengetahui kesedihan yang sedang ia bendung.
“Sekolah itu nggak enak, kita cuma disuruh-suruh sama guru. Diperlakukan kasar” hibur Dani mencoba menutupi masa-masa indah ketika ia masih bersekolah. Padahal, sebenarnya Dani juga ingin melanjutkan sekolahnya.
“Apakah guru itu akan memperlakukan kita sekasar Papa dan Mama ketika mereka sedang bertengkar?” tanya Dina seakan tak percaya pada jawaban kakaknya.
Kali ini, pertanyaan Dina benar-benar membuat Dani meneteskan air matanya. Pikirannya melambung jauh pada keluarganya yang broken home. Ia tak habis pikir mempunyai orang tua sekeji itu.
Andai saja aku tidak mengajak Dina untuk kabur dari rumah, andai saja sang kakak lebih memilih tinggal bersama Papanya mungkin adiknya bisa bersekolah, meski harus mengorbankan tubuhnya untuk selalu dipukuli oleh Papa setiap harinya, pikir Dani.
“Kakak kenapa nangis? Jangan-jangan Kakak ingat sama Papa Mama ya?” tanya sang adik sambil merangkul kakaknya.
“Dik, maafin kakak ya, gara-gara kakak. Kamu jadi begini, nggak bisa menikmati gimana rasanya sekolah, dan nggak bisa mengejar cita-citamu jadi dokter” ujar Dani sambil menghapus air matanya.
Dina tertunduk, sedih. Keduanya pun saling membungkam mulut masing-masing, meratapi nasib mereka nan malang. Hingga tiba-tiba, seorang anak laki-laki dengan  menggunakan kursi roda mendatangi mereka.
“Kenapa kalian disini? Kenapa kalian tidak pulang ke rumah? Hari ini matahari bersinar sangat terik, apa kalian tidak kepanasan?” tanya bocah itu.
Kakak beradik itupun mendongak, mencoba melihat anak laki-laki yang sedang menghampiri mereka.Hingga membuat mereka sedikit tertegun dan bersyukur atas keadaan tubuh mereka yang sempurna.
“Sedari tadi aku mengamati kalian dari dalam mobil, apa yang kalian lakukan disini? Apa kalian tidak sekolah?” tanya bocah itu.
Pertanyaannya barusan membuat kakak beradik itu kembali menunduk, dan membuat anak laki-laki itu kebingungan. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka bertiga, memanggil sosok laki-laki bernama Dino. Lelaki yang menggunakan kursi roda itu menoleh.
“Aku pergi dulu ya, ini buat kalian” katanya sambil menyodorkan sehelai uang lima puluh ribu.
***
“Jadi, selama ini kalian tinggal di tempat seperti ini?” tanya Dino pada Dina dan Dani.
Pagi ini, Dino mendatangi Dani dan Dina yang sedang duduk-duduk di dekat sungai Ciliwung. Meskipun hanya sekedar bercakap-cakap dan saling bercerita tentang keseharian mereka masing-masing, tapi kakak beradik itu terasa sangat senang karena mendapatkan teman baru, begitu juga Dino.
“Iya, beginilah hidup kami” jawab Dina lirih.
Sang Kakak yang mengetahui perasaan Dina segera membelai rambut Dina yang tampak kusut itu.
“Ini masih pagi, apa kamu tidak sekolah Dino?” tanya Dani pada Dino.
Dino menunduk, sedih.
“Bagaimana aku bisa bersekolah dengan keadaanku yang seperti ini, keadaan ginjalku yang semakin parah telah menguras seluruh tenaga di tubuhku, bahkan hingga membuatku seperti ini, tak bisa berjalan, aku harus menggunakan kursi roda untuk pergi ketempat yang kuinginkan” kata Dino sambil menahan air matanya yang hampir menetes.
“Bahkan kata dokter, umurku tidak akan lama lagi” kata Dino berat.
Dani dan Dina saling berhadapan. Seakan tak percaya pada setiap kalimat Dino, umur Dino yang hanya berselisih dua tahun dengan Dina, dan sebaya dengan Dani seakan tak pantas untuk menerima cobaan seberat ini.
“Kamu yang sabar ya Din, aku yakin di depan sana masih ada cahaya kehidupan yang sedang menantimu” hibur Dani.
“Makasih ya Dan, kamu benar-benar baik” kata Dino sambil tersenyum kearah Dani.
Hari-hari mereka lewati bersama, setiap pagi Dino selalu mengunjungi Dani dan Dina. Kini, mereka seperti saudara kandung, begitu dekat dan akrab.
Hingga suatu saat sesuatu telah membuat mereka bersedih. Dino akan berobat ke Bandung, dan itu membuat ketiganya merasa begitu sedih. Mereka bertiga telah diibaratkan makan sepiring dan tidur sebantal, bagaimana bisa tiba-tiba mereka harus berpisah.
“Aku minta maaf, aku nggak nyangka kita akan berpisah secepat ini, aku janji setelah aku sembuh nanti aku akan kembali kesini, aku janji” kata Dino sambil menahan air matanya. Pertemuan mereka beberapa hari lalu telah begitu membekas, hingga membuat mereka sangat bersedih.
“Doakan aku ya kawan” kata Dino setelah berpelukan dengan Dani cukup lama.
Lambaian tangan Dina dan Dani mengiringi setiap langkah Dino. Kini, kakak beradik itu begitu sedih, dan merasa sepi. Dunia seakan menjadi saksi akan kepedihan mereka.
***
“Dik, nasi kamu kok masih utuh, kamu nggak makan?” tanya Dani pada Dina.
“Apa kakak yakin akan ikut dengan Bang Salim, bukankah Bang Salim bukan orang baik-baik” kata Dina lirih, membuat Dani berhenti untuk mengunyah.
Semalam, Bang Salim datang ke menemui Dani dan Dina. Menawarkan sebuah pekerjaan untuk Dani. Sebuah pekerjaan di Bandung dan hanya sekali kerja, dengan upah kerja limaratus juta. Dani begitu setuju dengan tawaran Bang Salim, meskipun sebenarnya Dina tidak menyetujui karena tidak ingin kehilangan kakak satu-satunya. Tapi Dani bersikeras untuk mengikuti pekerjaan itu.
“Dik, kalau Bang Salim bukan orang baik, lalu kenapa kakak ditawari pekerjaan sebagus itu, sekali bekerja tapi upahnya sebegitu banyak. Dengan uang itu kamu bisa bersekolah” kata Dani meyakinkan adiknya.
“Kakak janji kakak selalu ada di dekatmu, meski di kehidupan nyata kakak jauh darimu, tapi kakak janji kalau sebenarnya kakak ada di dekatmu” kata Dani lagi.
Awalnya Dina bingung dengan kalimat Dani. Tapi karena Dani terus menghibur Dina membuat Dina tidak begitu menggubris kalimat itu.
***
Malam ini, Dani berangkat ke gubug Bang Salim. Disana terlihat ada gerombolan orang berbadan besar dengan tato hampir di seluruh tubuh. Awalnya Dani sungkan untuk melanjutkan langkahnya menuju gubug Bang Salim ingin rasanya berpaling dan kembali ke bawah jembatan menemui Dina yang mungkin sedang menangis karena ditinggal Dani, namun tiba-tiba ia teringat akan keinginan adiknya untuk bersekolah. Hingga membuatnya untuk berani melangkahkan kakinya menuju gubug Bang Salim.
“Haha, akhirnya kamu datang juga, om-om ini akan membawamu ke Bandung, dan kamu akan bekerja disana” kata Bang Salim.
“Sekarang cepatlah masuk ke mobil” timpal Bang Salim.
“Ta… tapi sebelumnya, abang janjikan aku masih bisa bertemu dengan adikku” tanya Dani terbata.
“Sudah, cepat kamu masuk ke mobil, tak usah banyak tanya” jawab Bang Salim setengah membentak. Membuat Dani ketakutan dan segera masuk ke mobil.
Ditengah-tengah rasa ketakutan Dani pada Bang Salim, ia mencoba untuk mendengarkan perbincangan Bang Salim pada orang-orang berbadan besar itu.
“Ini tanda terimanya, cepat kamu tanda tangan disini” kata salah  seorang berbadan besar itu sambil menyodorkan sebuah buku.
“Ternyata usia bocah tadi benar-benar sebaya dengan pasien yang ada di Bandung, aku yakin ginjal bocah tadi akan cocok dengan bocah yang ada di Bandung” kata orang itu lagi.
Dani terpaku, takut. Ternyata dia telah menjadi korban penjualan ginjal anak. Kini terlambat sudah, mobil sedan yang ia tumpangi telah membawanya meninggalkan keganasan kota Jakarta dan meninggalkan semua kenangan bersama adiknya, Dina. Kini, Dani telah pergi untuk selamanya.
***
Dina yang sudah sebulan menunggu kepulangan kakaknya mulai merasa cemas dan sedih. Dan membuatnya bersikeras untuk melaporkan hal ini pada polisi. Atas semua laporan dan bukti kuat Dina pada polisi membuat Bang Salim dan para rekannya di tangkap dan di penjara karena terduga menjadi pelaku penjualan ginjal anak.
Kini, Dina begitu sedih. Melihat nasib kakaknya yang begitu malang. Kakaknya telah pergi sebulan yang lalu meninggalkan semua kenangan dan kebaikannya selama bersama dengan Dina.
Berita tentang kisah Dani dan Dina pun mulai menyebar, membuat salah seorang Ibu berniat untuk mengadopsi Dina menjadi anaknya dan akan menyekolahkan Dina hingga Dina menjadi dokter seperti cita-citanya. Dina pun bersekolah hingga ia mendapatkan gelar sebagai dokter.
Sementara Dino baru bertemu Dina ketika Dina sedang wisuda. Mereka tak menyangka akan bertemu disaat-saat seperti ini, Dina sama sekali tak menyangka akan menemui Dino yang sudah sehat kembali. Ia begitu bersyukur dan bahagia, begitu juga Dino yang juga tak menyangka bertemu dengan Dina yang sudah mendapatkan gelar dokter itu. Hingga pertemuan mereka telah membuat mereka saling mencintai, dan bersepakat untuk melanjutkan hidup bersama. Sekembalinya Dino dari Inggris, Dina dan Dino segera melangsungkan acara pernikahannya.
Sementara itu, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa ternyata ginjal yang ada di perut Dino adalah ginjal milik Dani. Kini Tuhan benar-benar menepati janji Dani pada Dina ketika di Jakarta dulu, bahwa Dani akan selalu ada di dekat Dina meski jasad mereka jauh.

2 komentar: