Jumat, 30 November 2012

Karya Ilmiah


Karya Ilmiah Lingkungan
Oleh : B. Husnayain

Seiring bergilirnya waktu, ingin rasanya kusampaikan sesuatu. Sesuatu yang tak kan banyak orang kan mengerti dan peduli akan hal ini. Yang takkan paham akan suara tangisku yang menginginkan suatu keindahan di muka bumi ini, menghijaunya lingkungan yang selalu kudambakan, warna-warni bunga yang bermekaran, yang kan memberikan kesejukan di tengahnya sesak nafasku diantara jutaan polusi yang menyiksaku. Ingin kudapatkan kesegaran murni dari ribuan oksigen yang setia menemani setiap hirupan nafas makhluk hidup yang berada di bumi ini.
Tak terfikirkah di benak kalian? Bagaimana keadaan bumi ini dua, tiga ratus tahun lagi? Akankah seindah dulu? Saat nenekku dengan bangganya menceritakan suara lambaian rumput ilalang yang setia menyampaikan salamnya lewat sejuknya embun di pagi hari. Saat kakekku dengan bangganya menceritakan suara gemercik air mengalir dengan jernihnya serta ribuan pohon yang selalu merindangkan suasana hati di muka bumi ini saat sang surya dengan teriknya membakar segarnya udara di siang hari.
Bumi ini memanas seiring berjalannya waktu. Adanya penemuan baru dan meningkatnya teknologi membuat dunia ini penuh misteri. Kekuatan untuk bernafas menjadi sulit dan penuh perngorbanan. Jutaan pulusi tumbuh sesuka hati, limbah-limbah pabrik tak terkendali. Keindahan bumi ini pun sulit tuk kembali, hilangkan keasrian di muka bumi ini.
Hutanku menjerit kesakitan, rasakan ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab yang gila akan kekayaan dunia. Yang menguasai jalannya kehidupan tanpa menyimak jalannya alam Ranting-ranting pohon mengeluh padaku sampaikan kesedihan akan hilangnya sahabat mereka.
Kasihan hutanku yang kini enggan tuk menampakkan wajah cerah mereka, rasa keceriaannya dan indahnya senyumnya. Dunia tersenyum kecut, melihat bagian hidupnya telah tersayat dan tersakiti. Dunia, betapa aku tak dapat membayangkan apa yang akan kaulakukan tanpa hutanku, hutanmu, dan hutan kita bersama. Paru-paru kita ada padanya, jika ia pergi, maka paru-paru ini akan dibawa lari olehnya tanpa menyisakan satupun untuk kita bernafas di muka bumi ini.
Ijinkan aku merawatmu, memelukmu, dan menjagamu. Aku masih ingin kau ada disini hutanku sayang, kau bagian yang tak terlupakan, tanpamu tak akan ada kehidupan di dunia ini. Kesejukan dan setiap nafas ada padamu. Kau senantiasa selalu memberikan semangat hijaunya kesejukan pada kami.
Muak rasanya melihat sungaiku dibanjiri oleh para limbah-limbah jahat yang menghancurkan jernihnya setiap air yang mengalir dan membunuh setiap populasi yang tinggal di dalamnya. Risih rasanya mendengar hutanku tersayang terbakar oleh si jago merah. Terluka hati ini hadapi jeritan histeris hutanku ditebang sesuka hati. Tersayat hati ini ketika kehormatan hutanku di renggut oleh para penguasa tak bertanggung jawab. Keindahan hutan tlah ternoda. Betapa kusadari bahwa mereka tak berperasaan.
Hanya manusia tertentu yang dapat merasakan keluhan dan penderitaan mereka, hanya orang yang ingin merasakan ketentraman hidup di dunia dengan setiap hembusan nafas yang lega.
Tak terfikirkah dibenak kalian? Betapa besarnya perjuangan hutan kita ini. Mereka rela berkorban hanya demi kelangsungan hidup makhluk lain. Sampai kapan? Sampai kapan kita akan membiarkan hutan kita terus menangis, terus tersayat, dan terluka.
Hutanku, aku berjanji akan memperjuangkanmu, meski aku harus mencucurkan darah dari jasadku untukmu, hutanku sayang. Menangislah sepuasmu hutanku sayang, sebelum mereka akan benar-benar menghabisimu. Kusadari kini, bahwa hanya sedikit orang yang memperhatikanmu, tak semua orang di muka bumi ini peduli akan dirimu. Jangan khawatir lagi, aku ada dipihakmu. Akan kucurahkan seluruh kasih sayangku untukmu, hutanku sayang.
Banyak kenyataan yang harus kita hadapi, rintangan yang harus kita lewati, jutaan duri yang senantiasa menusuk akan perjalanan kita nanti.
Tak inginkah kalian membalas perjuangan dan pengorbanan mereka? Akankah lingkungan kita akan kembali seperti sedia kala? Pikirkan anak cucu kita, kelangsungan hidup mereka, agar mereka masih bisa merasakan indahnya dunia dengan indahnya lingkungan alam yang elok ini. Mereka juga akan bangga menceritakan pada orang lain bahwa kita menjaga kelestarian lingkungan alam kita. Walaupun kemajuan zaman terkadang mengikis keindahan alam ini sedikit demi sedikit, namun aku yakin bahwa masih ada cahaya keindahan yang menanti kita di depan sana.
Aku tak tahu apa yang dapat kutulis lagi, mungkin ada yang lebih hebat dariku. Tuhan, terimakasih atas semua yang telah Kau titipkan pada kami, kami yang berbeda jalan pikirnya, kami yang beraneka ragam sifatnya. Kami akan berusaha tuk menjaga dan merawat lingkungan ini, agar tetap indah dan lestari hingga Kau akan mengambilnya kembali. Aku akan memberikan seluruh kasih sayangku yang belum sempat disampaikan oleh orang-orang yang peduli akan lingkungan alam kita. Sebagai bukti pertanggung jawaban kita sebagai hamba yang Ta’at dan selalu mensyukuri nikmat-Nya.
Hutanku, jika kau terluka lagi katakan padaku. Lukamu lukaku juga, kita rasakan bersama. Kan kucoba mengobati lukamu dengan kasih sayangku padamu seperti engkau mengobati ku dengan tetumbuhan yang kudapatkan darimu.
Aku sungguh mencintaimu hutanku, karena tanpamu apalah arti kehidupan di dunia ini, bernafas tanpa sebuah paru-paru. Bertahanlah hutanku, meski mereka meremehkanmu, bahkan tak menghargaimu. Tapi ketahuilah, bahwa mereka tak bisa hidup tanpamu.

6 komentar:

  1. Kata-kata tingkat dewa... :D
    Keren3x... Lanjutkan!...

    BalasHapus
  2. wahh..mantep bgt tulisannya!! Keep on

    BalasHapus
  3. Sube'hanalloh bagus sekali karyanya...
    Atas kehendakNya, alam menyampaikan pesan2 deritanya selama ini lewat berbagai macam bencana, wahai manusia akankah kau akan terus menutup mata? melihat bumi kian hancur tanpa ada yang peduli...

    BalasHapus
  4. Cinta Alam Indonesia \(´▽`)/

    BalasHapus